Pilarmanado.com, JAKARTA – Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA), Dr. Santrawan Totone Paparang, S.H, M.H, M.Kn, menegaskan, banjir yang melanda Pulau Sumatera di mana perkebunan kelapa sawit dituding sebagai penyebab utama, merupakan bentuk pengaburan dan sengaja didengungkan oleh pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab.
Sedangkan menyangkut narasi yang sengaja disebarluaskan, Santrawan menandaskan, pembeberan tersebut merupakan bentuk kungkungan terhadap jutaan petani plasma yang menggantungkan hidup pada sawit, karena bernada tudingan dan tanpa fakta.

Dasar itulah, Santrawan pun memastikan pihaknya siap memberikan pendampingan hukum kepada petani plasma maupun pihak yang dirugikan akibat penyebaran informasi, karena tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
“Jika benar penyebab banjir karena perkebunan kepala sawit, harusnya dibuktikan baik secara ilmiah dan forensik, logika maupun secara hukum. Sebaliknya jika tidak, masalah ini harus diluruskan agar tidak menjadi gunjingan publik secara terus – menerus,” ketus Santrawan, Selasa, 30 Desember 2025.
Disebutkannya, narasi yang beredar tersebut tak ubahnya dari bentuk pencemaran nama baik, karena bertentangan dengan pasal dan ayat, baik yang diatur dalam Kitab Undang –undang Hukum (KUH) Pidana/Perdata maupun Undang – Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU – ITE).
“Narasi tersebut jelas – jelas bertentangan dengan Pasal 27 ayat (3) junto Pasal 45 UU ITE, yang mengatur larangan distribusi informasi bermuatan pencemaran nama baik, dan Pasal 28 ayat (1) UU ITE, yang mengatur tentang penyebaran informasi menyesatkan yang merugikan pihak lain,” jelas penyandang predikat cum laude untuk strata 1 ilmu hukum, magister hukum, magister kenotariatan dan program doktoral hukum itu serius.
Di sisi lain, Santrawan justru mengaku heran dengan banyaknya kayu gelondongan yang terbawa arus banjir, namun tidak diusik. Padahal kata dia, bukti tersebut telah menunjukkan adanya penebangan atau pembalakan liar (illegal logging – red).
Sehingga dengan menyalahkan perkebunan sawit adalah penyebab utama banjir menurut Santrawan, narasi tersebut sengaja digembar – gemborkan untuk menutup penyebab peristiwa yang sebenarnya terjadi.
“Bagi LBH GEKIRA, perlindungan dan pelestarian lingkungan merupakan harga mati. Begitu juga dengan kebenaran harus tetap dijaga dan dipertahankan. Jangan setelah kedok diketahui, justru rakyatlah yang dikorbankan,” kata dia mengingatkan. Penulis: Christiaan N.G.

