“Sebagai lawyer, saya dituntut mampu berpikir, apakah itu secara logika maupun realistis (pandangan secara fakta –red), tanpa melepaskan nilai – nilai moral dan etika. Saya berkeyakinan, ilmu hukum yang saya dalami, dapat membantu saya menegakkan dan menempatkan hukum itu pada tempat tertinggi”.
SATRYA MANULUNG BANCAGE IMMANUEL PAPARANG, SH, MH, M.Kn
Pilarmanado.com, MANADO – Setelah sukses meraih gelar Magister Kenotariatan atau M.Kn, dari Universitas Jayabaya Jakarta, Kamis, 07 Agustus 2025 lalu, Satrya Manulung Bansage Immanuel Paparang, SH, MH, M.Kn, kini fokus (tancap gas –red) merampungkan program doktoral (S3) hukumnya, di Universitas Trisakti Jakarta.

Keseriusan Etus, panggilan akrab Satrya, menempuh pendidikan untuk kategori atau fase tertinggi ilmu hukum, memang tidak mengenal waktu dan tempat. Di tengah kesibukannya sebagai advokad, Etus terus berkarya dan berkarir mengikuti jejak sang ayah, Dr. Santrawan Totone Paparang, SH, MH, M,Kn.
“Papa dan mama tidak pernah memaksa apalagi mendoktrin saya untuk berkarir sebagai advokat. Apa pun profesi yang saya jalani, itu merupakan panggilan hati. Kalau sekarang saya mengabdikan diri sebagai advokat, itu murni piliihan,” ungkap Etus, pada suatu kesempatan.
Etus, merupakan salah satu dari sekian banyak orang, yang menekuni karir sebagai advokat (penasehat hukum -red) di usia muda. Selain itu, dia juga tercatat sebagai pengacara praktik dan telah terlibat langsung menangani beragam perkara.
Bakat Etus itu memang sudah terlihat saat dirinya menapaki usia remaja. Terlahir sebagai anak sulung dari dua bersaudara, Etus tidak ubah dari kebiasaan ayahnya yang kutu buku atau suka membaca.
Tak heran jika kebiasaannya itu, mengantar dirinya untuk terus menimba ilmu hukum. Sekarang ini, kakak Sanita Paskah Abigail Paparang, tercatat sebagai mahasiswa semester dua untuk program doktoral (S3) ilmu hukum, di Universitas Trisakti Jakarta.

Prinsipnya, menekuti studi di usianya sekarang ini, agar tidak mengganggu profesinya yang datang silih berganti. Tak bisa dipungkiri, Etus yang kerap mendapat pekerjaan di beberapa daerah di Indonesia, membuatnya harus pintar – pintar membagi waktu.
“Kalau studi tidak diselesaikan secepatnya, bisa – bisa saya kalah langkah. Sekarang ini, persaingan sangat ketat. Sedikit pun kita terlambat, peluang bisa hilang,” kata Etus memberikan alasannya.
Menyinggung soal rencananya ke depan, Etus tak mau muluk – muluk. Baginya, bisa membela ‘orang – orang terpinggirkan’, bukanlah sebuah kepuasan apalagi tujuan utama, tapi lebih dari itu bagaimana kita menempatkan hukum itu pada posisi yang sebenarnya.

Sebagai bukti kerja kerasnya, Etus pun dapat menikmatinya dengan menjadi salah satu peserta yang diwisuda, Selasa, 4 November 2025. Etus pada kesempatan itu, dinobatkan sebagai wisudawan terbaik atau dengan predikat cum laude.
Didampingi ayah, mamanya, Henny Tambuwun, SH serta Michelle Paparang, istrinya, wajah Etus terlihat sumringah. Kini Etus tengah berjuang untuk meraih pendidikan tertinggi dengan gelar doktor.
Selamat berjuang Etus, meraih impian. Per aspera ad astra (hanya perjuangan dan tekad, semua impian besar dapat dicapai).
Penulis: Christiaan N.G.

