Pilarmanado.com, MANADO – Memperkuat komitmen kebangsaan, merawat toleransi, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menjadi fokus Pemuda Pancasila (PP) Sulawesi Utara (Sulut), yang disampaikan melalui dialog kebangsaan, Kamis, 29 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung di salah satu rumah kopi di kawasan Sario, Manado, mengangkat tema “Peran Strategis Pemuda Pancasila dalam Merawat Toleransi, Menjaga Stabilitas, dan Memperkuat Persatuan Bangsa di Sulawesi Utara.”
Dialog digelar untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda (SUP) ke 98 sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) Pemuda Pancasila ke 67.

Hadirkan Tokoh – Tokoh Daerah
Meski berlangsung sederhana, kegiatan tersebut terbilang sukses karena mampu menghadirkan sejumlah tokoh dan figur penting, di antaranya, Wali Kota Manado Periode 2000 – 2005, Drs. Wempie Frederik dan mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulut, Dr. Elisa Regar.
Selain itu hadir juga Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) PP Sulut, Cecep Lesmana, pengamat politik Drs. Karel Najoan, M.Si, Dr. Arthur Datunsolang, tokoh pemuda Bolaang Mongondow (Bolmong), mantan aktivis Patrik Pesik, S.E, Farasdak Ali Alamri, S.T, tokoh muda, Dr. Hendrik Manosoh, S.E. Ak, serta sejumlah pengurus.
Ketua Panitia, Decky Maskikit, S.Sos., mengatakan dialog kebangsaan ini menjadi wadah untuk bertukar gagasan, memperkuat komitmen kebangsaan, serta mendorong peran aktif organisasi kemasyarakatan dalam mendukung program pemerintah.
Menghargai Jasa Pejuang Bangsa
Menurutnya, forum tersebut juga penting untuk memperkuat nilai kebhinekaan, menjaga persatuan, serta menghargai jasa para pejuang bangsa dengan mengisi kemerdekaan melalui kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.

“Merawat persatuan adalah tanggung jawab kita bersama. Melalui forum ini, kita ingin memastikan bahwa seluruh elemen masyarakat di Sulawesi Utara tidak hanya berdiskusi, tetapi juga berperan aktif mendukung program pemerintah serta menjadi benteng dalam menjaga keutuhan NKRI,” ujar Decky.
Ia berharap dialog kebangsaan ini tidak berhenti sebatas pertukaran pemikiran, tetapi mampu melahirkan gagasan dan langkah nyata dalam menjaga toleransi, stabilitas daerah, serta memperkokoh persatuan bangsa, khususnya di Sulawesi Utara.
Elisa Regar dalam sambutannya mengajak seluruh pemuda di Sulawesi Utara untuk terus memperkuat koordinasi dan konsolidasi dengan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas). Menurutnya, sinergi dan kerja sama antarelemen pemuda menjadi kunci dalam mempererat persatuan serta membangun Indonesia yang lebih maju.
Mengemban Mandat Rakyat
“Semangat kebersamaan dan solidaritas yang menjadi nilai luhur Pemuda Pancasila, harus diwujudkan melalui kerja sama dan tindakan nyata. Pemuda harus mampu menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun kelompok,” tegas Elisa.
Sementara Wempie Frederik meminta pemerintah untuk membangun sinergi dengan masyarakat, khususnya dalam menyikapi berbagai aspirasi yang disampaikan. Menurutnya, pemerintah sebagai pejabat publik yang mengemban mandat rakyat, harus memastikan setiap kebijakan berpihak pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat.

“Kritik dan masukan masyarakat harus dipandang sebagai bahan introspeksi, untuk memperbaiki berbagai ketimpangan maupun kekeliruan dalam tata kelola pemerintahan. Karena itu, penyerapan aspirasi secara aktif, menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik,” ujar Wempie.
Hadirkan Ruang Dialog, Perkuat Komitmen Kebangsaan
Advokat Dr. Santrawan Totone Paparang, S.H., M.H., M.Kn., yang dihubungi terpisah, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan dialog kebangsaan tersebut. Menurutnya, forum diskusi semacam itu perlu diperbanyak, karena menjadi ruang strategis untuk membangun komunikasi, mempererat interaksi, serta memperkuat pemahaman dan persatuan antarkelompok masyarakat.
“Tentu kita berharap seluruh elemen masyarakat dapat menjaga dan merawat bangsa ini. Pemuda Pancasila, sebagai organisasi yang telah mengakar dan memiliki sejarah panjang, telah mengambil langkah tepat dengan menghadirkan ruang dialog untuk memperkuat komitmen kebangsaan,” ujar Santrawan yang juga mengajar di beberapa perguruan tinggi di Jakarta.
Indonesia Milik Bersama
Peraih predikat cumlaude pada jenjang Ilmu hukum, magister hukum, magister kenotariatan, hingga doktor ilmu hukum itu menegaskan, Indonesia dibangun di atas keberagaman.

Kemerdekaan dan berdirinya bangsa ini merupakan hasil perjuangan bersama seluruh elemen masyarakat, tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, maupun golongan.
Karena itu, lanjut Santrawan, tidak boleh ada sekat yang memisahkan masyarakat Indonesia berdasarkan perbedaan identitas. Tidak boleh ada kelompok atau golongan yang merasa paling berhak atas bangsa ini, terlebih sampai mengklaim bahwa Indonesia hanya milik kelompok tertentu.
Penulis: Christiaan N.G.

